Minggu, Mei 30, 2010

PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL


Semestinya pembelajaran sejarah selalu berangkat dari akar sejarah dan budaya lokal suatu masyarakat atau suatu bangsa. Agar peserta didik memiliki rasa ingin tahu dan membutuhkan terhadap pelajaran yang disampaikan. Materi tentang sejarah Kesultanan Banten akan mempunyai daya tarik tersendiri bagi siswa siswi Banten. Demikian pula dengan daerah-daerah lain. Tentunya sangat berbeda bila dibandingkan dengan mempelajari sejarah di daerah lainnya. Bukan berarti sejarah nasional dan sejarah dunia tidak perlu dipelajari. Akan tetapi sejarah lokal menjadi titik tumpu bagi siswa untuk mempelajari sejarah yang berskala nasional dan sejarah glabal dan sejarah-sejarah lainnya.

Atas dasar itulah memasukan sejarah lokal sebagai suatu kurikulum di sekolah mesti diupayakan dan diperjuangkan, dalam rangka mengotimalisasikan pembelajaran sejarah yang kurang diminati para siswa. Sekaligus pula menjadikan peserta didik tahu akar sejarah dan budayanya sendiri. Sebab globalisasi dan kurangnya kurikulum sejarah mengarahkan kepada sejarah lokal ini menjadikan para siswa asing terhadap akar sejarah dan budaya nenek moyangnya. Siswa-siswi terlampau dibawah jauh ke luar daerahnya (lokalnya) dalam menyelami riwayat sejarah dan budayanya. Mereka tahu sejarah nasional dan sejarah dunia, tapi tidak kenal pada sejarah dan budaya tempat kelahirannya sendiri.

Demikian juga dengan pelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa harus dimulai dari bahasa ibunnya, bahasa daerahnya, bahasa nasionalnya, baru kemudian bahasa dunia internasional. Sehingga bahasa, budaya dan sejarah lokal/daerah mewarnai daerah tersebut dengan warnanya sendiri. Inilah sebuah pemikiran yang benar. Beranjak dari warna-warni perbedaaan keindonesiaan kemudian diuntai para pendiri bangsa ini dengani “bhinneka tunggal ika”. Proses dan tahapan ini telah kita lampaui melalui perjalanan panjang hingga diambil inisiatif cerdas para pemuda dengan memberikan stimulus bagi lahirnya bangsa ini dengan “sumpah pemuda”, yang mengakui keanekaragaman bahasa, budaya, sejarah, suku, agama dan lain-lainnya untuk “bertanah air satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa indonesia dan berbahasa satu bahasa Indonesia”. Ibarat warna-warni pelangi yang di dibentuk asalnya dari satu warna cahaya putih matahari yang menyinarkan cahaya setiap hari. Itulah Indonesia.

Tidak ada Indonesia tanpa adanya warna-warni dari bahasa, budaya dan sejarah latar belakang daerah masing-masing. Oleh karena itu setelah Indonesia merdeka, hendaklah arif untuk tidak mengIndonesiakan Indonesia tetapi tidak mendaerahkan daerah. Mari kita jaga warna-warni tetapi tidak melupakan warna asli merah putih Indonesia. Mari kita jaga warna-warni daerah dengan melestarikan warna aslinya dengan tidak memaksakan warna Indonesia yang lebih dominan, apalagi warna dunia. Kita lestarikan bahasanya dengan bahasa daerah, kita lestarikan budayanya dengan budaya daerah dan kita upayakan untuk memahami akar sejarahnya dengan sejarah daerah/lokal.

Selama ini sejarah yang diajarkan di sekolah kurang bermakna bagi siswa. Ironis sekali. Siswa diajak untuk mempelajari asal-usul daerah lain. Namun, tidak memahami asal usul daerahnya sendiri. Guru sebagai ujung tombak dalam pembelajaran sejarah juga tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengembangkan materi dan metode pembelajaran. Karena, guru kurang memiliki pemahaman teori dan metodologi sejarah.

Di sinilah persoalan pembelajaran sejarah menjadi semakin rumit. Siswa sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran juga merasa bosan karena belajar sejarah hanya menghafalkan nama-nama tokoh, angka-angka tahun, dan benda-benda peninggalan yang kusam. Oleh karena itu perlu sekali mengubah paradigma dalam pembelajaran sejarah yang cukup memberikan stimulus siswa untuk mempelajari sejarah. Di antaranya siswa diajak untuk mampu memparalelkan sejarah dunia dengan sejarah nasional dan sejarah lokal dengan metode yang inovatif.

Saatnya semangat yang terkandung dalam diberlakukannya Otonomi Daerah sudah semestinya mengacu kepada kemandirian. Masyarakat secara sadar membangun dirinya menjadi manusia yang amanah dan mampu memanfaatkan sumber daya. Baik manusia dan alam untuk kemaslahatan masyarakat. Dalam konteks tersebut di atas pembelajaran sejarah khususnya sejarah lokal menjadi relevan.

Anak bangsa di negeri ini sudah sewajarnya diperkenalkan dengan lingkungan yang paling dekat yaitu desanya, kemudian kecamatan, dan kabupaten, baru tingkat nasional, dan internasional. Apabila mereka mencintai sejarah di daerahnya maka secara otomatis anak didik akan mengetahui tentang kearifan lokal tentang kebudayaan di daerahnya.

Sejarah lokal mempunyai arti sangat penting bagi anak didik kita. Dengan mempelajari sejarah lokal anak didik kita akan memahami perjuangan nenek moyangnya. Efek globalisasi sangat luar bisa, seolah tidak bisa dibendung. Koran, radio, televisi, internet dan lain-lain sangat mempengaruhi warna masyarakat kita. Pengaruh-pengaruh yang merusak keindonesaan dan kedaerahan semestinya harus kita ditangkal dengan kerifan, untuk tumbuh kembalinya kearifan lokal yang kita harapkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar